Rabu, 12 Januari 2022

Not me, huh? (ep4)

 "Aaallll" Nayra merengek manja ke Alya

"Ada apa sih, datang-datang bikin rusuh aja"

"Rama al, Rama" 

"Rama kenapa?" Alya bingung

"Aku ngikutin saran kamu untuk gak hubungin dia dan ngasih dia waktu buat sendiri"

"Terus?"

"Terus, pas aku pulang duluan waktu itu, karena ada janji sama dokter buat kontrol, ehh dia malah jalan sama gebetan baru nya"

"Haaah? Siapa lagi gebetan nya? Bukan kamu doang?"

"Gak tahu, kayaknya banyak deh"

"Yaudah Nay, yang kayak gitu gak usah di ladenin lagi lah."

"Yaa, tapi aku juga yang salah sih. Aku nya ke-baperan, padahal dia cuma mau temenan sama aku"

"Jangan nyalahin perasaan, perasaan suka dan nyaman itu gak bisa tiba-tiba datang tanpa ada pemicu"

"Aku gimana dong Al? Ternyata bukan aku yang dia mau"

"Bukannya udah tahu harus gimana? Mundur lah Nay, ngapain mengharapkan orang yang gak mau sama kamu"

"Tapi aku merasa ada yang aneh gitu sama dia, kenapa ya?"

"Aneh apanya?"

"Udah jelas-jelas nih semua orang tahu dia jalan sama perempuan ini dan antar jemput si perempuan ini, dan jelas-jelas aku juga liat mereka sering ketemu. Tapi, setiap digodain anak-anak yang lain tuh dia gak pernah ngaku. Buat apa gitu menyangkal sesuatu yang semua orang udah tahu kebenarannya?"

"Gak tahu ya, mungkin dia sadar kali kalau kamu suka sama dia, dan dia cuma gak enak aja sama kamu"

"Masa gitu Al? Masa sih dia tahu? Malu dong aku"

"Menurut kamu, dia tahu gak? Dari gerak-geriknya"

"Gak ngertiiii... Mana ngerti aku Al masalah gini-ginian tuh"

"Iyaa sih, dasar si polos yang gak pernah pacaran. Belajar dulu deh sama aku"

Minggu, 12 Desember 2021

Dia, belum lepas dari masa lalunya (ep3)

--- Diruang kerja

"Heeeh, pagi-pagi udah bengong aja" ucap Alya mengagetkan Nayra sambil memukul kecil pundaknya

"Eh udah dateng" balas Nayra menengok ke Alya dengan ekspresi datar dan tidak kaget sama sekali

"Kenapa lagi sih?"

"Jantung ku gak aman banget nih, nyesek terus, gelisah terus, gak ngerti kenapa"

"Pikiran kamu tuh, lagi mikirin apa emang? Si Rama Rama itu?"

"Bisa jadi"

"Lah kok bisa jadi"

"Aku bingung banget deh, ku kira dia tuh tertarik denganku, makanya aku mencoba untuk memahami dan membuka hati"

"Taunya dia suka sama yang lain ya?"

"Gak gitu iih, dengerin dulu Alyaaa..." Nayra merengek manja kepada sahabatnya itu

"Kamu pikir aja deh, ngapain dia bolak balik ngeliatin profil sosial mediaku coba? kan aku jadi dibuat mikir. Pas aku udah baper, eh ternyata dia cuma penasaran doang."

"Gimana kamu tahu kalo dia cuma penasaran sama kamu?"

"Aku tebak aja. Soalnya dia cerita kepadaku kalau dia belum bisa move on dari mantannya. Sebelum dia cerita, aku juga udah tahu sih dari obrolan teman-temannya. Nah, untungnya aku bisa cepat mengatur ulang perasaanku, mumpung belum terlanjur jauh, aku takut kecewa lagi."

"Yaaah Nayraa, galau lagi deh temanku ini"

"Aku gapapa sih Al. Tapi, menurutmu aku harus gimana ya? Di satu sisi aku kasian sama dia, tiap hari galau terus. Pengen banget menghibur dan bantuin dia lupain mantannya. Tapi disisi lain aku takut, takut kalau aku masuk ke cerita itu nanti akunya yang baper dan menyakiti diri sendiri"

"Eemm gini aja Nay, kamu gak perlu masuk terlalu jauh dulu kedalam cerita dia. Bantuin dia buat sembuh dari lukanya itu gapapa kalau dia minta bantuan kamu, kalau dia masih ingin cerita tentang sedihnya ke kamu, kamu support terus aja. Tapi, kalau dia sedang diam dan gak menghubungimu, kamu juga harus bisa menahan diri untuk gak mengganggu dia. Siapa tahu dia sedang butuh sendiri."

"Gitu ya Al... Yaudah deh kerja gih sana, udah rame, udah banyak yang datang"

Rabu, 27 Oktober 2021

Perasaan Aneh Apa Ini? (ep2)

    Hari ini Alya aneh banget deh, seharian kelihatan murung dan sedikit bicara. Aku mau tanya juga tidak enak jadinya, mood nya sedang buruk, mungkin nanti saja pas makan siang aku bisa mengorek sedikit informasi.

***

--- Di Kantin

"Al, kamu baik-baik saja kan?"

"Mmm kayaknya enggak deh"

"Mau cerita?"

"Aku juga bingung nih Nay, sama diriku sendiri", ucap Alya mulai bercerita kepadaku

"Kenapa sih?"

"Aku rasanya lagi capek banget sama kerjaan, terus si bos juga baik banget biarin aku istirahat dengan cara gak ngasih banyak proyek ke aku"

"Bagus dong"

"Tapi rasanya malah aneh, aku merasa useless sekarang. Ngerasa kayak, kok aku gak diikutsertakan ya? kok aku gak diajak diskusi lagi ya? Ngerti kan?"

"Perasaan kamu aja kali"

"Bener Nay, aku tuh ngerasa udah gak dianggap lagi, ngerasa disini tuh udah gak butuh aku lagi. Kamu tau kan aku gak suka perasaan seperti itu? Kamu tau kan kenapa aku resign dari kantor sebelumnya?"

"Iya tau, karena disana kamu ngerasa udah gak dibutuhin"

"Nah, aku tuh selalu pergi kalau udah ngerasa gak dibutuhin. Dan akhir-akhir ini aku kepikiran buat resign aja gitu"

"Heh, jangan dulu dong Al, nanti aku makan siangnya sama siapa?"

"Yaah, kamu pikirannya makan siang doang"

"Hehehe", jawabku cengar-cengir

    Sehabis makan siang, aku dan Alya kembali ke pekerjaan kita masing-masing. Tapi masalah tentang resign ini pasti akan aku bahas lagi besok dan besoknya lagi. Pokoknya sampai Alya berubah pikiran dan merasa dia masih dibutuhkan disini. Setidaknya aku butuh dia. Karena aku sama dengan Alya, kita sama-sama susah untuk bergaul dan akrab dengan orang baru. Bukannya tidak bisa, hanya saja butuh waktu yang lebih untuk bisa berbicara dengan nyaman. Aku gak kebayang aja nanti kalau Alya resign dan dia harus kerja di kantor baru dan memulai semua dari awal lagi. Memulai untuk membuka diri dan akrab dengan orang, kebiasaan dan suasana baru, aku tau betul itulah yang paling sulit bagi dia.


***

Kamis, 24 Juni 2021

Scene Selanjutnya (ep1)

     Kamis datang, hari itu Alya datang agak siang. Sebelum masuk gedung, Alya menyempatkan beli roti dan susu di minimart dekat gedung kantornya. Alya menaruh 2 susu dan 2 roti di kasir.

"Bayar pakai LinkAja ya mba"

"Baik kak, ada kartu membernya?"

"Ada, sebentar"

Alya memberikan barcode member card minimart tersebut dan kasir langsung menghitung total belanja Alya. Pekerjaan membeli roti dan susu pagi menuju siang ini selesai. Alya masuk ke gedung dan langsung naik lift menuju lantai 31. Sampai di lantai 31 Alya meletakkan satu roti dan satu susu diatas meja seorang laki-laki yang terlihat seumuran dengannya, namanya Hadi.

"Ini roti dan susu nya mas bro"

"Asiik, makasi mba sist, senang berbisnis dengan anda"

"Sama-sama bro, jangan lupa bintang limanya"

Beberapa saat setelah Alya duduk di kursinya, yang sebenarnya persis di belakang kursi Hadi. Ketika itu, Yesa temannya langsung nyeletuk.

"Aduuh gemes banget sama pasangan ini, gaulnya keren banget"

Duuaaarrr... Dua baris meja itu, meja timnya Alya dan meja di timnya Hadi langsung gempar dengan ucapan Yesa. Tidak ada yang tau memang, mereka selama satu tahun ini sudah berpacaran.

"Ehh? Apa-apaan Di?" Tanya Rajul teman Hadi

"Apa-apaan, apanya?" Jawab Hadi sambil tertawa kecil

"Waaah gilaaa, kok bisa nggak ketahuan sih kalian?" Timpal Lutvi

"Kita kan profesional" Sahut Alya dari meja seberang.

***

Jumat, 06 November 2020

Do You Really Love Her?

 Tahun lalu kamu masih sempat bilang ke aku kalau kamu tidak cinta kepadanya setelah tiga tahun pacaran. Bahkan sejak awal kamu bilang bahwa dia yang mengejar cintamu, dan kamu tidak punya rasa apa-apa. Kamu bilang ingin mengakhiri dengannya, tapi kamu menyayangkan hubungan yang bertahun-tahun itu. Kamu juga menyayangkan karena dia pacar pertamamu. Jadi yang kamu sayangkan hanya hubungannya, bukan dia.

Aku sampai detik ini masih ingin percaya kata-kata itu, karena berharap kamu bisa lepas dari dia. Kalimat-kalimat yang kau ucap itu yang membuat aku masih bertahan sendiri dan berharap kamu datang kepadaku. Aku masih ingin percaya yang aku dengar itu benar adanya. Tapi...

Sampai akhir kau tetap bersamanya, kamu tidak ingin pisah karena logikamu bilang hubungan kalian sudah sepanjang itu maka harus tetap bertahan hingga akhir. Kesampingkan logikamu, pernahkah kau tanyakan kepada hatimu? Maukah dia melanjutkan hubungan itu?

Aku harap ini mimpi, aku masih belum ingin percaya bahwa bulan depan kau akan menikahinya. Tapi aku sadar ini nyata. Aku sadar karena setiap malam aku tidak bisa tidur tenang. Sebulan sebelum kau menjadi suami orang, aku hilang kendali. Dua puluh empat jam sehari hanya dikamar, buka netflix, tutup. Buka youtube, tutup. Tidur subuh, bangun siang, kerjaku berantakan, jam makan juga tidak beres. Tidak ada yang benar.

Kembali ke pertanyaanku. Apa kamu sudah mulai cinta dengannya? Apa kamu sudah benar-benar yakin menikah dengan dia? Kalau memang begitu, aku sudah tidak bisa apa-apa lagi. Aku menyerah sekarang. Tidak ada yang perlu aku sesali, semua memang salahku. Aku tidak bisa menyalahkan teman-teman yang selalu melarangku untuk menyatakan perasaan kepadamu. Aku juga tidak bisa menyalahkan waktu yang tidak berpihak kepadaku. Dari awal aku yang salah karena tidak pernah berani jujur pada diri sendiri. Dari awal aku yang salah karena selalu menyangkal perasaanku sendiri dan tidak ingin kamu tahu.

Munafik sekali jika aku berharap kamu bahagia dengan dia. Aku sama sekali tidak rela. Sungguh. Tapi jika memang kamu sudah bahagia, aku harap aku juga segera menemukan bahagiaku. Mari jangan bertemu lagi. Mari jangan berteman lagi. Sulit bagiku melihat wajahmu.

Rabu, 13 Februari 2019

Lemah

Debar ini mengapa selalu menemani di malam-malam sendiri?
Mengapa selalu resah memikirkan hal yang mungkin tidak terjadi?
Wahai hati, tegarlah melewati setiap hari.

***

Aku sungguh tak tega melihat kau sedang kesakitan disampingku, menutup mata dan merebahkan kepalamu diatas meja. Apa yang harus aku perbuat? Membelikanmu obat? atau menawarkan segelas teh hangat?
Hati kecilku sangat ingin melakukan hal itu, tapi sekitarku bilang tak harus seperhatian itu.
Ketika kau sakit, akulah yang lebih sakit. Sakit menahan diri yang ingin dengan sigap menangkapmu, memegang erat tanganmu dan memeluk tubuh letihmu. Sakit karena pada kenyataannya aku tak bisa berbuat apa-apa selain berdoa dan memperhatikanmu dari tempatku. Jadi, jika ada satu hal yang boleh aku minta kepadamu, tolonglah kau jangan sakit. Karena akan membuat hatiku juga sakit.

Lalu, ketika kau tersenyum pada ponselmu, berbicara dengan nada manja, dengan bahasa yang tidak aku mengerti selain "aku" dan "kamu" disetiap kalimat yang kau ucap itu.
"Wanitamu?" ahh bodoh, mana mungkin aku bertanya itu padamu. sanggup pun tidak mendengar jawabanmu.

Kau tahu, aku mendengar setiap ucapanmu? walau aku tak mengerti. Ada beberapa yang kau ucap berkali-kali, mungkin dia yang diujung ponsel tidak mendengar suaramu yang berbisik kecil sekali, atau hanya ingin mendengarmu mengucap kata itu lagi dan lagi. Dan aku tetap tidak mengerti. Sama halnya seperti aku tidak mengerti mengapa harus ada air mata yang membasahi pipi mendengar suara lembutmu yang berbicara bukan kepadaku.

Hari ke hari, aku mengikuti perkembanganmu. Apa yang kau suka, apa yang tidak. Apa yang sedang ingin kau beli, atau tempat mana yang ingin kau kunjungi. 

Bahkan ketika berkali-kali kau bilang aku lemah, senyumku tetap bisa kau dapatkan sebab aku ingin kau merasa lebih kuat dari aku. Biarlah. Kau lelaki, memang seharusnya lebih kuat dari aku. Meski kau tak akan pernah tau seberapa kuat aku di masa lalu. Seberapa getir perjuanganku. Seberapa derai air mata yang ku habiskan sepanjang waktu.

Jangan, jangan kasihan kepadaku, aku tak butuh dikasihani. Aku hanya ingin kau kasih hati. Bila memang kau benar-benar peduli, jangan terlalu sering diamkan aku seperti barang mati yang tak punya hati.

Sabtu, 24 November 2018

Melangkah

Aku saja tidak ku perbolehkan egois pada diriku sendiri. Lantas mengapa mereka harus egois atas diriku?

***

Mengapa rayuanmu kau beri ketika aku memilih pergi? Tak pantaskah aku menerimanya ketika kita masih bersama? Mengapa kau gigih mempertahankanku ketika aku bersama yang baru? Selama ini, telahkah kau jaga aku?

Apalagi yang harus di bicarakan? Sudahlah. Aku ingin dilepaskan. Aku adalah orang yang tak mudah di patahkan ketika aku sudah membuat keputusan.

Pesanku satu. Jika nanti kau punya yang baru, jika kau rasa dia penting bagimu, jagalah dia dengan baik, berikan apa yang bisa kau berikan selagi dia bersamamu. Karena jika dia sudah hilang, maka akan sulit untuk pulang.